🔥 CRYPTO UPDATE: 🚀 BITCOIN (BTC): $92.450 (+1,52%) 💎 ETHEREUM (ETH): $3.850 (+0,85%) 🔸 BINANCE (BNB): $615,20 (-0,12%) ☀️ SOLANA (SOL): $185,45 (+2,10%) 💰 BTC/IDR: Rp 1,45 Miliar 📊 SENTIMEN: Extreme Greed (78)
MARKET WATCH
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
BerandaKOMODITASValasSentimen Geopolitik Memanas dan Efek Inflasi AS, Rupiah Ambles ke Level Rp...

Sentimen Geopolitik Memanas dan Efek Inflasi AS, Rupiah Ambles ke Level Rp 17.668 per Dolar AS

-

Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp 17.668 per dolar AS (18/5/2026). Pengamat sebut dipicu oleh risiko inflasi energi AS dan eskalasi geopolitik global.

Tekanan terhadap mata uang domestik kian tak terbendung pada penutupan perdagangan awal pekan. Kombinasi dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, ancaman inflasi global akibat lonjakan harga energi, serta respons pasar terhadap pernyataan domestik sukses menyeret mata uang garuda ke zona merah yang lebih dalam.

Dikutip dari Antara, nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) melemah signifikan ke posisi Rp 17.668 per dolar AS. Angka ini merosot cukup tajam dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.597 per dolar AS.

Pelemahan ini juga tecermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak merosot ke level Rp 17.666 per dolar AS, ambles dari posisi hari sebelumnya di level Rp 17.496 per dolar AS.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa kejatuhan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya risiko inflasi di Amerika Serikat (AS) yang didorong oleh tingginya harga minyak dunia. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).

“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed,” ungkap Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Faktor eksternal ini diperparah oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah upaya mengakhiri perang AS-Israel di Iran terhenti. Situasi kian mencekam pasca serangan drone terhadap fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA) dan wilayah Arab Saudi. Ditambah lagi, Presiden AS Donald Trump diperkirakan tengah membahas opsi militer terhadap Iran, sementara pembicaraan antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pekan lalu berakhir tanpa solusi konkret untuk meredakan konflik tersebut.

Dari dalam negeri, pergerakan sentimen pasar juga ikut tersentak oleh dinamika internal. Pelaku pasar dan investor merespons pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, sehingga dampak dari pelemahan kurs tidak terlalu langsung dirasakan oleh masyarakat awam.

 

Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Guncangan Suplai Energi

Penutupan rupiah di level Rp 17.668 per dolar AS mengonfirmasi bahwa pasar keuangan domestik sedang terjebak dalam triple whammy (tiga hantaman sekaligus): guncangan suplai energi global, risiko penundaan pangkas suku bunga Fed, dan kecemasan geopolitik baru. Serangan terhadap pembangkit nuklir Barakah di UEA bukan lagi sekadar konflik regional biasa, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Hal inilah yang memicu ekspektasi inflasi AS bertahan tinggi dan memaksa rupiah tunduk pada keperkasaan dolar AS.

Sementara dari sisi domestik, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai resiliensi warga daerah yang minim interaksi dengan dolar AS sebenarnya bertujuan untuk menjaga psikologis masyarakat agar tidak panik secara massal. Namun, di tingkat pelaku pasar modal dan investor korporasi, pernyataan ini dibaca secara berbeda. Pasar melihat ada potensi kelonggaran intervensi jika pemerintah menganggap dampak pelemahan ini tidak darurat bagi masyarakat bawah. Akibatnya, terjadi koreksi teknikal pada JISDOR hingga menyentuh Rp 17.666. Pemerintah dan Bank Indonesia kini dituntut untuk menyelaraskan komunikasi kebijakan agar perlindungan terhadap daya beli masyarakat desa berjalan selaras dengan kepastian stabilitas makro bagi investor institusional. ***

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.biz.id
Pusat komando informasi Asatunews.biz.id. Dari fluktuasi Bitcoin di pasar London kami menyaring ribuan informasi global untuk menyajikannya secara ringkas, akurat, dan berintegritas. Berpatokan pada prinsip 'Resilience Over Returns', kami memastikan informasi yang Anda terima adalah amunisi terbaik untuk navigasi di era ketidakpastian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERKINI

Survei BI: Kredit Baru Diprakirakan Naik pada Triwulan IV 2026, SBT Capai 91,31%

Survei Perbankan BI memproyeksikan penyaluran kredit baru naik pada triwulan IV 2026 dengan SBT 91,31%. Pertumbuhan kredit tahunan diperkirakan 8,20%. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyaluran kredit...

Pasar Global Tertekan, Kekhawatiran Investasi AI dan Konflik Timur Tengah Bayangi Laporan Laba Teknologi

Pasar saham global tertekan pada 22 Oktober 2026. Kekhawatiran pendanaan AI, pelemahan saham teknologi, dan kenaikan minyak di tengah ketegangan Timur Tengah membayangi laporan laba...

Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Serangan ke Ladang Minyak Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan

Harga minyak Brent menembus US$112 per barel setelah serangan di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia melonjak...

Emas Dunia Turun di Bawah US$4.100, Harga Perak Ikut Tertekan Lonjakan Minyak

Harga emas dunia turun di bawah US$4.100 per ounce pada 22 Oktober 2026. Lonjakan minyak memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Pasar logam mulia...

Popular

BAMSOETNEWS.COM

Referensi Utama

NAVIGASI
POLITIK &
HUKUM

Menyajikan berita aktual, tajam, dan terpercaya langsung dari jantung kebijakan nasional.

✔ Dinamika Parlemen
✔ Analisis Hukum & Peradilan
✔ Update Ekonomi Nasional
Straight News • Faktual • Objektif