Harga minyak dunia sepekan melesat tajam. Brent tembus 109 dollar AS dan WTI naik 10,48% akibat memudarnya harapan damai AS-Iran di Selat Hormuz.
Harga minyak dunia sepekan melesat tajam. Brent tembus 109 dollar AS dan WTI naik 10,48% akibat memudarnya harapan damai AS-Iran di Selat Hormuz. Kelanjutan baris kedua artikel Anda akan otomatis melilit di bawah huruf besar ini dengan rapi. Begitu pula dengan baris ketiga yang akan menyesuaikan posisinya di dasar huruf Drop Cap tersebut.
Harga minyak dunia sepekan melesat tajam. Brent tembus 109 dollar AS dan WTI naik 10,48% akibat memudarnya harapan damai AS-Iran di Selat Hormuz.
Harga minyak dunia mencatatkan kenaikan tajam sepanjang pekan ini. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta pudarnya harapan pasar akan pembukaan kembali blokade Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Dikutip dari Kompas.com yang mengandalkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak 7,84 persen secara mingguan dan ditutup pada level 109,26 dollar AS per barrel pada perdagangan Jumat (15/5/2026) waktu setempat. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meroket hingga 10,48 persen dalam sepekan ke posisi 105,42 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga emas hitam ini didorong oleh memudarnya harapan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri aksi saling serang serta penyitaan kapal di sekitar Selat Hormuz. Analis Commerzbank menilai hubungan kedua negara kembali memanas meskipun status gencatan senjata saat ini masih berlangsung.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan pihaknya tidak memiliki kepercayaan terhadap AS dan hanya bersedia melanjutkan negosiasi jika Washington menunjukkan keseriusan. Araqchi menegaskan bahwa Iran siap jika harus kembali berperang, meski tetap membuka peluang penyelesaian diplomatik.
Merespons hal tersebut, Presiden AS Donald Trump mengaku mulai kehilangan kesabaran terhadap Iran. Dalam perkembangannya, Trump menyatakan dirinya dan Presiden China Xi Jinping telah sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan wajib segera membuka kembali Selat Hormuz untuk jalur perdagangan.
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global, termasuk ekspor dari negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Qatar.
Berdasarkan data Garda Revolusi Iran, hanya ada sekitar 30 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada pertengahan pekan. Walau jumlah ini menunjukkan sedikit peningkatan dibanding pekan-pekan sebelumnya, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata kondisi normal yang biasanya mencapai 140 kapal per hari sebelum konflik Timur Tengah pecah.
Kondisi ini diperparah oleh laporan bahwa cadangan minyak global mulai menipis. Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu lama berpotensi memperketat pasokan dan mendorong harga energi terus naik dalam beberapa pekan ke depan.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Tidak Percaya Narasi
Melesatnya harga minyak mentah Brent hingga mendekati 110 dollar AS per barrel mengonfirmasi bahwa pasar global tidak lagi memercayai narasi gencatan senjata semu di Timur Tengah. Fakta lapangan yang dirilis menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz (hanya 30 kapal dari normalnya 140 kapal per hari) mengindikasikan adanya blokade de facto yang sangat ketat.
Sikap keras kepala Iran yang enggan berkompromi tanpa adanya keseriusan riil dari Washington, berhadapan langsung dengan hilangnya kesabaran Donald Trump. Kendati Trump menggandeng Xi Jinping untuk menekan Teheran, pasar menyadari bahwa restriksi fisik di Selat Hormuz tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika politik. Bagi negara net-importir minyak seperti Indonesia, lonjakan WTI dan Brent di atas 100 dollar AS ini akan menjadi hantaman berat bagi ruang fiskal APBN 2026, terutama pada sektor subsidi energi dan stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. ****
