Harga minyak dunia Brent & WTI anjlok tajam di akhir pekan seiring dibukanya Selat Hormuz. Simak dampak kebijakan Donald Trump bagi harga gas alam global.
LONDON, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga komoditas energi global ditutup dengan penurunan mingguan yang sangat tajam pada akhir pekan ini, Minggu (19/4/2026). Melandainya harga minyak dan gas dipicu oleh meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah menyusul pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.
Dikutip dari Anadolu Agency, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui akun media sosialnya menyatakan bahwa selat tersebut kini sepenuhnya terbuka. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran di wilayah tersebut akan tetap berlaku hingga kesepakatan damai difinalisasi 100 persen.
Harga minyak mentah mengalami koreksi dalam pada perdagangan Jumat waktu setempat. Minyak mentah Brent tercatat merosot sekitar 3,5 persen secara mingguan ke level 91,8 dolar AS per barel. Penurunan lebih ekstrem terjadi pada West Texas Intermediate (WTI) yang anjlok hingga 11,4 persen ke posisi 85,5 dolar AS per barel.
Sentimen positif dari pembukaan jalur logistik energi ini juga merembet ke pasar Eropa. Harga gas alam di Eropa terjun bebas sebesar 9,1 persen dalam sepekan ke level 39,66 euro per megawatt-hour. Selain itu, harga minyak pemanas (heating oil) juga merosot 8,6 persen menjadi 3,4 dolar AS per galon.
Relaksasi di Selat Hormuz ini memberikan harapan baru bagi stabilitas pasokan energi global yang sempat tercekik akibat ancaman gangguan distribusi dan blokade laut dalam beberapa bulan terakhir.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Respons Spontan
Penurunan harga WTI sebesar 11,4% dalam sepekan merupakan respons spontan pasar terhadap hilangnya “premi risiko” geopolitik di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia, sehingga kepastian pembukaannya untuk kapal komersial langsung meredakan kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan stok (supply shock).
Namun, investor perlu mencermati klausul “blokade tetap berlaku” yang ditekankan Trump. Secara teknis, ini berarti militer AS masih memiliki kendali penuh atas siapa saja yang boleh keluar-masuk wilayah tersebut, khususnya aset-aset Iran. Artinya, volatilitas belum benar-benar hilang. Jika proses finalisasi kesepakatan berjalan alot atau mengalami kebuntuan, harga minyak bisa kembali melesat dalam waktu singkat. Bagi Indonesia, penurunan harga energi global ini diharapkan dapat mengurangi beban subsidi energi dan memperkuat nilai tukar Rupiah di awal pekan depan. *****
