Saham SpaceX kembali melanjutkan tren penurunan pasca-IPO hingga menghapus kapitalisasi pasar sebesar 400 miliar dolar AS dalam waktu singkat.
Tren penguatan masif (rally) saham raksasa antariksa dan kecerdasan buatan milik Elon Musk, SpaceX, dilaporkan mulai kehabisan bensin. Setelah sempat mencatatkan rekor penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang fenomenal pada pertengahan Juni 2026, saham SpaceX kini justru berbalik arah dan melanjutkan tren koreksi tajam.
Pada perdagangan pra-pasar (premarket) hari Selasa (23/6/2026), saham SpaceX terpangkas lebih dari 4%. Penurunan ini memperpanjang rekor kelam pada hari Senin sebelumnya, di mana saham perusahaan ambruk hingga 16,43% ke level $154,60 per lembar saham dan menghapus kapitalisasi pasar perusahaan sekitar $400 miliar (setara kisaran Rp6.500 triliun) hanya dalam satu sesi perdagangan.
Euforia Ambisi AI Elon Musk Mulai Mereda di Wall Street
SpaceX resmi melantai di bursa saham pada 12 Juni 2026 dalam sebuah aksi IPO yang memecahkan rekor global. Pada awal debutnya, harga saham langsung terbang lebih dari 50% di atas harga penawaran awal karena para investor berebut untuk mendapatkan eksposur dari ambisi antariksa serta proyek Artificial Intelligence (AI) milik Elon Musk. Kapitalisasi pasar SpaceX bahkan sempat meroket hingga menyentuh angka $2 triliun, melompati valuasi raksasa teknologi dunia seperti Amazon dan Microsoft.
Namun, memasuki pekan kedua, euforia tersebut mendingin. Penurunan beruntun sebesar 3,6% dan 5% pada hari-hari sebelumnya menjadi alarm awal sebelum akhirnya ambles belasan persen pada hari Senin. Guna menjaga likuiditas, SpaceX mengumumkan penawaran surat utang senior tanpa jaminan (senior unsecured notes) dan mengungkap posisi kas perusahaan yang berada di angka $100,8 miliar per 19 Juni. Di sisi lain, SpaceX juga menyepakati perjanjian komputasi besar dengan startup AI open-source, Reflection, guna mengakses infrastruktur superkomputer Colossus milik Musk.
Tabel Pergerakan Saham dan Data Finansial SpaceX (Juni 2026)
| Indikator Finansial / Pasar | Kondisi & Statistik Perdagangan | Dampak / Posisi Terakhir |
| Harga Penutupan Senin (22 Juni) | $154,60 per lembar saham | Turun tajam sebesar 16,43% dalam sehari. |
| Pergerakan Pra-Pasar (23 Juni) | Minus lebih dari 4% | Melanjutkan tren kerugian dari minggu lalu. |
| Estimasi Valuasi yang Lenyap | Kisaran $400 Miliar (± Rp6.500 Triliun) | Menghapus mayoritas keuntungan investor pasca-IPO. |
| Kapitalisasi Pasar Terakhir | Berada di kisaran $2 Triliun | Sempat melampaui Amazon dan Microsoft sebelum terkoreksi. |
| Posisi Kas Perusahaan (Per 19 Juni) | $100,8 Miliar dalam kas dan setara kas | Diperkuat dengan rencana penerbitan surat utang baru. |
Analisis: Pelajaran Penting Sifat FOMO dan Volatilitas Saham “Hype” Tech
Anjloknya valuasi SpaceX pasca-IPO ini memberikan pelajaran finansial yang sangat berharga bagi komunitas investor dan trader saham di Indonesia:
1. Bahaya Terjebak Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)
Banyak investor ritel di Indonesia sering kali membeli saham teknologi global atau lokal yang baru IPO hanya karena pengaruh nama besar tokoh di belakangnya (seperti Elon Musk) atau karena narasi masa depan yang bombastis (SpaceX dan AI). Kasus SpaceX menunjukkan bahwa membeli saham saat harganya sudah terbang 50% di atas harga IPO akibat hype sangatlah berisiko. Investor ritel lokal yang masuk belakangan menjadi pihak yang paling menderita karena keuntungan awal mereka langsung tersapu bersih oleh aksi ambil untung (profit taking) dari institusi besar.
2. Memahami Karakteristik Saham “Hype” yang Volatil
Saham teknologi yang menggabungkan isu antariksa dan AI memiliki tingkat volatilitas yang sangat tinggi. Pergerakan harganya didorong oleh ekspektasi, bukan semata-mata fundamental keuangan saat ini. Bagi investor Indonesia yang bertransaksi saham AS melalui aplikasi sekuritas lokal yang legal, koreksi SpaceX adalah pengingat bahwa perusahaan bernilai $2 triliun pun bisa kehilangan nilai sebesar ratusan miliar dolar dalam semalam jika ekspektasi pasar mulai jenuh. Diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci utama.
3. Sisi Positif: Sektor AI Masih Memiliki Fondasi Riil
Meskipun harga sahamnya anjlok akibat dinamika pasar modal, langkah SpaceX mengamankan kontrak komputasi dengan startup Reflection dan kepemilikan kas sebesar $100,8 miliar menunjukkan bahwa bisnis operasional mereka tidak hancur. Penurunan ini adalah koreksi teknis yang wajar agar harga saham kembali ke valuasi yang lebih rasional. Bagi pelaku industri digital di Indonesia, integrasi SpaceX dengan infrastruktur Colossus AI menegaskan bahwa perang teknologi global di masa depan akan selalu berpusat pada kepemilikan daya komputasi (computing power) berskala raksasa. Source
