Hasil survei World Gold Council per Juni 2026 menunjukkan 89% bank sentral dunia bersiap menambah cadangan emas seiring merosotnya dominasi dolar AS.
Tren peralihan aset global secara masif sedang terjadi di panggung keuangan internasional. Bank-bank sentral di seluruh dunia diperkirakan akan terus memperkuat dan menambah cadangan emas mereka dalam beberapa tahun ke depan. Sebaliknya, porsi investasi dalam bentuk mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bakal merosot tajam.
Fenomena tersebut terekam jelas dalam laporan komprehensif 2026 Central Bank Gold Reserves Survey yang dirilis oleh World Gold Council (WGC) pada Selasa (16/6/2026).
Berdasarkan survei yang melibatkan 76 manajer cadangan devisa negara—partisipasi tertinggi sepanjang sembilan tahun sejarah survei ini—ketegangan geopolitik yang terus membara di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global menjadi pemicu utama mengapa emas kembali diburu sebagai aset aman utama (safe haven).
Statistik Survei WGC 2026: Emas Naik Daun, Kepercayaan Dolar Runtuh
Laporan WGC menunjukkan perubahan sentimen yang sangat drastis dari para pemegang kebijakan moneter dunia terhadap masa depan mata uang Dolar AS.
Berikut adalah tabel sederhana rangkuman proyeksi dan data perilaku bank sentral dunia berdasarkan survei WGC per Juni 2026:
| Parameter Proyeksi & Tren Devisa | Persentase / Angka Statistik (Survei 2026) | Catatan & Realitas Lapangan |
| Prediksi Kenaikan Emas Global | 89% responden | Berharap total akumulasi emas bank sentral dunia naik dalam 12 bulan ke depan. |
| Rencana Pembelian Institusi Sendiri | 45% responden (Rekor Tertinggi) | Berencana menambah cadangan emas di lemari besi bank mereka sendiri. |
| Prediksi Masa Depan Dolar AS | 74% responden | Yakin porsi Dolar AS dalam cadangan global akan turun drastis dalam 5 tahun. |
| Volume Pembelian Emas Tahunan | 1.000 Ton / Tahun | Rata-rata 4 tahun terakhir; naik 2x lipat dibanding dekade sebelumnya (500 ton). |
| Metode Pendanaan Beli Emas | 50% lewat program domestik mata uang lokal; 38% lewat penjualan aset devisa lain. | Menghindari ketergantungan likuiditas pasar valas internasional. |
| Tren Lokasi Penyimpanan Fisik | Bank of England (57%), Domestik (49%), BIS (16%), Swiss National Bank (6%). | Minat simpan di Swiss merosot tajam dari 12% (2025) menjadi tinggal 6% (2026). |
Emas dinilai memiliki performa luar biasa dalam situasi krisis, bertindak sebagai alat diversifikasi yang efektif, serta menjadi benteng pertahanan terbaik (hedge) dalam melawan hantaman inflasi global yang tak kunjung mereda.
Repatriasi Emas: Ketakutan Sanksi Barat dan Keamanan Domestik
Satu poin menarik dari survei tahun 2026 ini adalah pergeseran preferensi lokasi penyimpanan emas fisik. Sebanyak 9% responden memilih untuk memulangkan emas mereka ke dalam negeri (penyimpanan domestik) selama 12 bulan terakhir.
Langkah proteksionisme ini diambil karena kekhawatiran geopolitik, belajar dari kasus pembekuan aset-aset luar negeri oleh negara-negara Barat saat terjadi konflik geopolitik besar. Di sisi lain, popularitas Bank Nasional Swiss (Swiss National Bank) merosot drastis hingga setengahnya dibanding tahun lalu, menandakan pudarnya reputasi Swiss sebagai tempat penyimpanan netral di masa krisis.
Analisis: Dampak Dedolarisasi Global terhadap Rupiah dan Harga Emas Antam
Hasil survei World Gold Council pada pertengahan 2026 ini membawa implikasi yang sangat serius bagi stabilitas ekonomi, kebijakan Bank Indonesia (BI), serta dompet masyarakat retail di Indonesia:
1. Sinyal Kuat Bagi Bank Indonesia (BI) untuk Terus Menambah Cadangan Emas
Sebagai negara berkembang yang sering kali terdampak oleh fluktuasi indeks Dolar AS (DXY), Bank Indonesia perlu mencermati sentimen global ini. Membawa pulang atau meningkatkan porsi cadangan devisa dalam bentuk emas domestik akan memperkuat fundamental ekonomi nasional. Langkah BI yang belakangan gencar mempromosikan Local Currency Settlement (LCS) atau transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara-negara mitra dagang (seperti China, Jepang, Malaysia, dan Korea) sejalan dengan tren dedolarisasi yang disebutkan dalam survei WGC ini.
2. Harga Emas Antam di Indonesia Berpotensi Cetak Rekor Baru
Hukum ekonomi dasar berlaku: ketika permintaan (demand) dari institusi raksasa sekalas bank sentral dunia meningkat hingga dua kali lipat (1.000 ton per tahun), sementara pasokan komoditas terbatas, maka harga dasar emas dunia akan terus merangkak naik. Bagi masyarakat Indonesia, ini adalah sinyal hijau bahwa investasi pada emas fisik (seperti logam mulia Antam, Pegadaian, atau platform digital) dalam jangka menengah dan panjang masih menjadi instrumen paling kokoh untuk melindungi nilai kekayaan dari depresiasi mata uang.
3. Tekanan Jangka Panjang pada Rupiah Akibat Sentimen Dolar
Meskipun 74% bank sentral memprediksi peran Dolar AS akan melemah dalam 5 tahun ke depan, dalam jangka pendek pergolakan ini justru menciptakan volatilitas tinggi. Ketika dolar AS bergejolak akibat ketidakpastian di Timur Tengah, nilai tukar Rupiah berisiko mengalami tekanan temporer sebelum sistem keuangan dunia benar-benar beralih ke tatanan multi-mata uang (multi-currency system). Pelaku bisnis impor-ekspor di Indonesia harus mulai membiasakan diri mengurangi ketergantungan penuh pada denominasi dolar.
Laporan World Gold Council per Juni 2026 menjadi bukti valid bahwa “Dedolarisasi” bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan strategi penyelamatan ekonomi yang sedang dijalankan oleh para bankir dunia. Di tengah badai geopolitik dan rapuhnya mata uang kertas, emas kembali membuktikan dirinya sebagai raja diraja aset keuangan. Bagi masyarakat Indonesia, diversifikasi aset ke dalam bentuk emas merupakan langkah bijak untuk mengamankan aset keluarga dari ketidakpastian global yang kian pekat. Source
